Di Ujung Tombak

Minyak seorang janda
2 Raja-raja 4:1-7
1 Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya."2 Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak. " 3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" 5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir. 7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu."
Tidak dapat dipungkiri, kita hidup dalam zaman yang semakin menantang. Orang-orang berjuang habis-habisan untuk kelangsungan hidup mereka; ada yang berjuang untuk hidup semakin kaya, yang dipikirkan siang dan malam adalah bagaimana mereka melipat-gandakan harta kekayaan mereka, jika mereka mengalami kegagalan maka tidak sedikit di antara mereka yang mengalami depresi dan putus asa; sementara ada sebagian orang yang berjuang habis-habisan untuk mencari uang untuk menafkahi kehidupan dasar keluarga mereka sehari-hari, penghasilan mereka tidak sanggup mengimbangi harga kebutuhan barang-barang pokok keluarga mereka, bekerja pagi-siang-malam, sampai akhirnya juga mengalami depresi dan putus asa. Kedua-duanya mengalami pergumulan dan harus berjuang, cuma berbeda dalam corak dan ragamnya saja. Buat mereka masing-masing, masalah mereka sangatlah berat untuk dipikul.

Selama kita hidup di dunia ini, setiap orang pasti mengalami tantangan dan pergumulan dengan corak mereka masing-masing, termasuk kita orang-orang yang mengasihi TUHAN. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa ketika seseorang mengalami tantangan dan pergumulan yang berat, bukan serta-merta berarti orang tersebut sedang jatuh dalam dosa atau sedang dihukum TUHAN. Meskipun ganjaran dosa and hukuman dapat berupa kehidupan yang penuh dengan kesukaran dan kutuk, namun tantangan dan pergumulan dapat menolong seseorang untuk melatih kekuatan iman mereka kepada TUHAN karena seringkali ketika seseorang berada di bawah tekanan hidup yang berat, iman mereka mengalami pemurnian.

 Pada suatu hari ada satu keluarga hamba TUHAN yang dilanda masalah besar dan berat. Hamba TUHAN tersebut meninggal dunia, meninggalkan istri dan dua orang anaknya. Bagi sang janda ini adalah masalah berat, ia kehilangan suaminya, dan harus membesarkan kedua anaknya sebagai single parent. Ditambah lagi, suaminya meninggal dengan meninggalkan hutang yang sangat besar sampai mereka tidak sanggup membayarnya lagi, bahkan mereka didatangi debt collector yang sudah siap untuk mengambil kedua anaknya, yang menjadi satu-satunya harapan hidup, menjadi budak untuk membayar hutangnya (ay1). Keluarga ini begitu terpuruknya, sampai tidak ada sesuatu apapun di rumah mereka yang bisa mereka jual untuk membayar hutang mereka (ay 2). Kisah ini membuktikan bahwa tantangan dan masalah bisa saja dialami oleh siapapun juga, termasuk orang Kristen.
1 Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Namun kisah tersebut tidak berhenti sampai di sana. Perhatikan bagaimana sang janda datang kepada nabi Elisa curhat dan konseling. Ini sebuah langkah titik balik yang sangat penting karena jika sang janda kalap dan mencari jalan pintas di luar jalan TUHAN maka kisahnya bisa berakhir tragis; dia bisa saja terlibat hutang dengan rentenir, jebakan orang yang berniat jahat atau bahkan terjerumus dalam berbagai-bagai kejahatan.

Perjumpaan sang janda hanyalah permulaan perjalanan iman dia. Setelah berseru dengan jujur keberadaannya kepada nabi TUHAN, ia mungkin berharap bahwa nabi Elisa akan membantu membayar hutangnya atau mengusir si penagih hutang, atau bahkan cuma bisa pasrah dan tidak tahu harus berharap apa-apa lagi. Apalagi ketika dia disuruh untuk pergi meminta bejana-bejana kosong dari para tetangga. Kita mungkin berpikir dua kali, ditengah-tengah krisis keuangan yang begitu parah, mengapa harus meminta bejana-bejana kosong, mengapa tidak pergi meminta bejana berisi sesuatu yang berharga, atau pergi meminjam uang, dan sebagainya. Tetapi disinilah kita bisa melihat bagaimana TUHAN bekerja dengan caraNya sendiri, yang sering tidak kita pahami, bertentangan dengan logika dan hukum ekonomi yang kita pahami.
Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Namun perhatikanlah bagaimana sang janda percaya dan taat kepada perintah Elisa. Secara spesifik nabi Elisa menyuruh sang janda untuk masuk ke dalam rumahnya dan tutup pintunya rapat-rapat. Hal ini mengingatkan kita bahwa mujizat ini dirancang TUHAN untuk menolong keluarga si janda ini saja, sehingga tetangga sebelah rumah yang meminjamkan bejana-bejana kosong tidak berpikir bahwa bejana mereka adalah bejana sakti yang bisa melakukan mujizat. Seringkali kita diingatkan untuk tidak terjebak pada metode pekerjaan TUHAN, seperti teknik-teknik tertentu untuk ‘menarik’ atau ‘mendatangkan’ mujizat TUHAN, karena TUHAN tidak mau kita menjadi ‘dukun-dukun Kristen’ tetapi DIA mau kita menangkap esensi dan prinsip dasar iman yang benar.

Perhatikan bagaimana sebuah ketaatan dan iman dari sang janda mendatangkan mujizat bagi keluarganya, meskipun nabi Elisa tidak menjelaskan panjang lebar bagaimana sebuah mujizat akan terjadi; minyak tidak berhenti mengalir sampai bejana yang paling akhir (ay 6). Mulai dari titik inilah, TUHAN kembali memanfaatkan hukum ekonomi dunia, yakni mengumpulkan komoditas minyak dalam bejana dan menjualnya untuk memperoleh cukup uang untuk membayar si penagih hutang dan membiayai kehidupan keluarganya.

Seberapa minyak yang bisa diperoleh tergantung kepada banyaknya jumlah bejana yang diperoleh oleh sang janda. Semakin banyak bejana yang dia kumpulkan semakin banyak pula minyak yang terkumpul. Seringkali bukan karena TUHAN tidak sanggup mencurahkan berkat dan mujizatnya kepada kita, tetapi marilah kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita sudah menyediakan bejana rohani dalam hidup kita; bejana yang bersih, kudus dan berkenan. Bagaimana TUHAN bisa mencurahkan berkatNya kepada kita kalau kita tidak memperbesar bejana kejujuran dan integritas kita. TUHAN juga mau mencurahkan ‘minyakNya’ jika kita sudah mempersiapkan banyak bejana ketrampilan dan kecakapan (skill) kita.
Lukas 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. w Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Agar kita dapat meraih berkat dan mujizat TUHAN yang berkelimpahan tersebut, marilah kita tingkatkan jumlah tempayan rohani kita, dengan cara praktis yakni belajar banyak ketrampilan dan kecakapan, dan meningkatkan kapasitas atau daya tampung bejana rohani kita. Untuk itu, kita harus stretch iman kita dengan cara mempraktekkan Firman, seperti mengucap syukur dalam segala keadaan, mengambil langkah iman, dan sebagainya.

Biarlah melalui kisah ini, kita tahu bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami tidak melebihi kekuatan kita. Carilah TUHAN ketika kita dalam kesesakan, maka DIA akan memberikan jalan keluar dengan cara yang ajaib. Siapkan bejana-bejana rohani yang memadai untuk menampung kasih karuniaNya. Bersiaplah untuk terkagum-kagum pada pekerjaan tangan TUHAN yang luar biasa. Tuhan memberkati.

Do It My Way


Di tahun yang baru ini banyak orang sudah merancang rencana-rencana kerja untuk tahun yang baru. Buat sebagian anak Tuhan, mereka mulai kembali meng-claim janji-janji Tuhan.

Keselamatan diberikan Tuhan sebagai anugerah; hadiah, namun berkat Tuhan diberikan kepada mereka yang memiliki kunci untuk membukanya. Saya gambarkan berkat Tuhan yang luar biasa itu disimpan Tuhan di dalam lemari besi yang kokoh yang hanya bisa dibuka jika kita memiliki kuncinya, kalau dibuka paksa namanya maling.

Ada banyak orang yang kecewa karena mereka selama bertahun-tahun meng-claim janji-janji Tuhan, namun belum menerimanya, jangan-jangan mereka hanya berdiri di depan brankas berkat Tuhan tetapi tidak memiliki kunci untuk membuka brankas berkat tersebut.

Siapa diantara kita yang rindu menerima kunci untuk membuka brankas berkat TUHAN?

Sukses 7 Turunan

TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang HIDUPNYA BERKENAN kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.

(The Psalms of King David)

Finishing Well

Raja Uzia memulai karirnya sebagai seorang raja di usia 16 thn, usia yg masih sangat belia, namun krn dia melakukan apa yg benar di mata TUHAN, selalu mencari TUHAN dan takut akan ALLAH, maka TUHAN membuat dia berhasil memimpin bangsa Yehuda selama 52 thn, kerajaannya megah dan masyur, disegani kerajaan tetangga.

Namun sayang seribu sayang, setelah ia menjadi kuat, karakternya tdk mengimbangi, ia menjadi tinggi hati. Di akhir hidupnya, dia lancang kepada TUHAN dan kena tulah berupa penyakit kusta sampai akhir hidupnya.

It doesn't really matter how you start your journey of successful life, what matters is how you finish it well.

(The life of King Uzziah - taken from 2 Chronicles 26:1-23)

Your attitude sets your altitude

Yeremia 17:5-8

Kita hidup dalam zaman yang semakin susah. Orang tidak peduli seberapa banyak kita jatuh dalam kegagalan, tetapi orang mau tahu apa respon kita ketika jatuh.

Dalam hal inilah, orang beriman terlihat perbedaannya. Dalam masa sukar, seorang yang tidak beriman hidup bergumul dengan kekuatannya sendiri sampai akhirnya dia kelelahan sendiri. Di kala dia sudah menyerah, dia mengandalkan orang sekitarnya yang seringkali berujung pada kekecewaan. Hatinya dipenuhi dengan kepahitan dan tidak sanggup lagi melihat kebaikan Tuhan.

Pada titik ini, dia masuk dalam rancangan iblis, yakni hatinya menjauh dari Tuhan. Dia tidak sadar sedang digiring menuju padang belantara yang tandus, dimana dia akan mengalami kutuk dan celaka yang lebih dahsyat lagi.

Trust in the Lord

Blessed is the man who trusts in the Lord, and whose hope is the Lord. For he shall be like a tree planted by the waters, which spreads out its roots by the river, and will not fear whwn heat comes; but its leaf will be green, and will not be anxious in the year of drought, nor will cease from yielding fruit.

By Jeremiah the son of Hilkiah (Jer 17:7-8)

Head or Tail?


by Ferry Tanoto

Kita sudah berada di penghujung tahun 2012, tepatnya minggu ke 50. Ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi resolusi tahun 2012 kita. Coba ingat-ingat apa yang menjadi resolusi kita di awal tahun 2012. Semoga kita masih ingat apa yang kita canangkan sebagai resolusi kita di awal tahun 2012 karena bagaimana resolusi itu bisa tercapai, wong isi resolusinya saja tidak ingat. Seberapa jauh target yang sudah kita canangkan di awal tahun 2012 yang sudah kita capai? 

Ada orang yang berkata hidup ini ibarat roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Apakah anda menganut prinsip tersebut? Masalahnya, jika anda percaya pada prinsip tersebut, maka prinsip inilah yang akan terjadi dalam hidup anda.

Lantas, apa yang dikatakan Firman Tuhan tentang hidup kita?

Roh yg luar biasa

Selasa, 23-10-12
Daniel 6:1-29
Ayat emas : 4
Kata Kunci : EXCELLENCY

(P) Pertanyaan: Roh yg luar biasa seperti apakah yg harus saya miliki, seperti roh Daniel yg luar biasa?

(T) Terang:Roh yg tetap setia meskipun ada banyak tantangan disekitar.

(P) Pedang: Saya mau membangun roh saya dgn senantiasa melekat padaNya.

(D) Doa: Bapa, hanya kepada Engkau saja, aku melekat. Karena diluar Engkau aku tdk dpt berbuat apa-apa. Biarlah hidupku berkenan di hadapanMu.Amin

Lebih dari Pemenang

Senin, 22-10-12

Roma 8:31-39
Ayat hafalan : 37
Kata Kunci : Lebih dari Sang Juara

(Pertanyaan) Mengapa saya lebih dari org2 yg menang? Apa ciri2 yg tampak dlm diri seorg yg lebih dari pemenang?

(Terang) Saya lebih dari pemenang karena Allah di pihak saya. Tandanya adalah saya menang atas segala tantangan dan pencobaan yg mencoba memisahkan aku dari kasih Allah.

(Pedang) Saya menyadari bahwa Allah ada di pihakku meskipun terkadang aku merasa berjalan sendiri. Tetapi aku tahu Dia tdk pernah meninggalkanku. Saya mau tampil sbg pemenang bahkan lebih dari pemenang.

(Doa) Tuhan, aku bersyukur Engkau selalu ada di sisiku tdk perlu aku takut ataupun gentar sebab Engkau besertaku. Saya tdk mau membiarkan apa pun juga yg mencoba memisahkan aku dari kasihMu. Amin

Tetap Taat di Saat Sukar

1 Raja-raja 17:7-24 Elia dan Janda di Sarfat

Apa yang dialami sang janda?

1.     Dia kehilangan suami, tulang punggung keluarga. Menjadi janda di zaman Elia tidaklah mudah dikarenakan oleh diskriminasi gender, seorang janda tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tidak seperti janda zaman sekarang.

2.     Dia menderita kemiskinan dan bencana kekeringan dan kelaparan

3.     Dia harus menghidupi seorang anak laki-laki 

Dalam situasi yang penuh penderitaan ini, datang seseorang yang tidak dia kenal datang menyuruh dia untuk mengambilkan air minum, setelah itu minta dibuatkan roti lagi.

Tantangan #1 Sang janda diminta menyerahkan semua makanan yang ada padanya.

Akhirnya sang janda tidak tahan lagi, dia mengungkapkan penderitaan dan keputusasaannya kepada Elia, bahwa dia sudah siap mati.

Seringkali dalam sebuah penderitaan yang menyakitkan, seseorang bisa berpikiran sangat sempit, pikiran untuk mati (suicidal). Orang kehilangan akal sehat ketika kehilangan harta miliknya. Pada tahun 1998, di Indonesia, jumlah orang stress, gila dan bunuh diri meningkat tajam karena kerusuhan. Manusia sudah terikat kepada harta miliknya.

Tetapi karena Tuhan sudah berbicara kepada sang janda ini sebelumnya, dan nabi Elia kembali menegaskan (reinforce) nubuat janji Tuhan buat janda ini beserta keluarganya, dia pun taat melakukannya. Padahal, kenyataan lingkungan sekitar menunjukkan bahwa negeri mereka kekeringan dan dilanda bencana kelaparan, satu-satunya harapan, walaupun sesaat, adalah sedikit makanan yang masih tersisa, sang janda tetap taat kepada perintah Tuhan melalui nabi Elia.

Apa dampak dari ketaatan sang janda? Tepung dalam tempayan dan minyak (olive oil) dalam buli-buli tidak berkurang selama musim paceklik tersebut. Hidup mereka dijaga dan dicukupkan oleh Tuhan.

Tantangan #2 Sang janda hampir saja kehilangan anak laki-laki satu-satunya

Kehilangan makanan (tepung dan minyak) tidak sehebat kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Buat sang janda, hidupnya terasa berakhir di saat anaknya meninggal, karena dia tahu bahwa dia bakal sebatang kara. Di tengah kesedihannya, sang janda kelihatannya menyalahkan kehadiran Elia.

Seringkali, di dalam hidup kita, ketika masa sukar diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup ini, kita mulai menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan. Sampai-sampai Elia juga jadi tidak enak hati kepada sang janda. Tetapi Tuhan tahu apa yang Dia lakukan, semuanya itu terjadi supaya janda ini belajar beriman kepada Tuhan dan pada saat yang bersamaan Tuhan mau Elia belajar mengandalkan Tuhan sebelum dia menjalankan misi dari Tuhan untuk menegur raja Ahab yang sudah menyakiti hati Tuhan.

Oleh karena itu, marilah kita tetap berdiri teguh, dan ketahuilah bahwa tidak ada pencobaan yang lebih besar dari kemampuan kita yang diizinkan Tuhan menimpa hidup kita. Ujian yang kita hadapi berguna untuk menghasilkan ketekunan di dalam hidup kita.

Jagalah Hati dengan Segala Kewaspadaan

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23)

"Guard your heart with all vigilance, for from it are the sources of life."

Note:

  • ·       "more than all guarding." This idiom means "with all vigilance." The construction uses the preposition מִן (min) to express "above; beyond," the word "all" and the noun "prison; guard; act of guarding." The latter is the use here (BDB 1038 s.v. מִשְׁמָר).
  • ·     The word תּוֹצְאוֹת (tots'ot, from יָצָא, yatsa') means "outgoings; extremities; sources." It is used here for starting points, like a fountainhead, and so the translation "sources" works well. 

Hati adalah sumber segala keinginan dan keputusan. Alkitab berkata bahwa dari hati kita terpancar segala kehidupan. Dalam bahasa aslinya, kata "terpancar" mengacu pada kata "sumber", seperti layaknya sumber mata air. Ketika kita pergi berkemah dan harus mengambil air dari sungai untuk minum tentu saja kita berusaha sedemikian rupa supaya kita menemukan mata air, kalau pun tidak ketemu, kita berusaha menemukan hulu dari aliran sungai tersebut, karena kalau tidak, nanti kita bisa ketemu kapal selam kuning yang mengambang.


Demikian juga dengan hati kita, apa yang kelihatan dari luar seringkali adalah refleksi dari apa yang ada di dalam hati seseorang. Ketika hati seseorang dipenuhi dengan sukacita maka akan terlihat dari wajahnya, perkataannya dan tingkah lakunya. Wajahnya akan memancarkan sukacita, kalau soal hidung mancung, mata belo, belah dagu, dsb itu lain kasusnya. Ucapannya akan memberikan kekuatan dan penghiburan. Tindakan tingkah lakunya menunjukkan kasih.

Tuhan Yesus juga menggunakan metafora mata air untuk mengajarkan pentingnya kita menjaga dan merawat hati kita.


Yohanes 4:13-14

13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal"


Yohanes 7:37-38

37Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! 38Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan d  oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. 39Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.


Iblis tidak dapat merebut kita dari tangan Bapa (Yoh 10:28-29) tetapi dia dapat merebut hati kita sehingga kita kehilangan damai sejahtera dan sukacita dari Bapa. Ketika kita kehilangan damai sejahtera dan sukacita dari Bapa, iblis menabur benih putus asa, kebencian, perpecahan, dll dalam hidup kita. Kalau kita membiarkan hal itu terjadi, maka sumber mata air dalam hati kita akan tercemar, kita menjadi sensitif, saling melukai. Kita sendiri tidak bisa hidup dalam berkat, orang lain yang berada disekeliling kita juga tidak menikmati berkat Tuhan.

Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan. Dalam bahasa aslinya, kata "segala" mengacu pada makna lebih dari segalanya, diatas segalanya. Jadi kita harus memprioritaskan penjagaan hati ini, karena ini pintu depan iblis masuk dan memporak-porandakan hidup kita. Dalam menjaga hati, kita perlu menjaganya dengan segala kewaspadaan.

Mengapa kita harus waspada? Karena lawan kita, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Pet 5:8). Manusia bisa saja malas dan lengah, tetapi iblis sangat rajin dalam hal ini, yakni mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Itulah sebabnya, dalam komsel ini kita harus bersatu hati, ketika kita melihat ada perangkap iblis untuk menyerang hati kita atau sesama kita, kita saling mengingatkan dalam kasih, supaya kita tidak diperdaya oleh si jahat. Sesungguhnya peperangan kita bukan melawan darah dan daging, bukan melawan sesama kita, melainkan melawan kuasa si jahat (Ef 6:12).

Hal ini mengingatkan saya bagaimana Belanda berhasil menjajah Indonesia selama 3.5 abad, yakni dengan politik devide et impera (politik pecah belah). Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena iblis sedang bergerilya di sekitar kita, untuk melumpuhkan hati kita dengan segala tipu muslihatnya.

I love you Mom

Ortu di jepang dulu pernah ada tradisi membuang org yg sudah tua ke hutan.

Mrk yg dibuang adl org tua yg sudah tdk berdaya sehingga tdk memberatkan kehidupan anak2nya.

Pd suatu hari ada seorg pemuda yg berniat membuang ibunya kehutan, krn si Ibu tlh lumpuh dan agak pikun.

Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yg kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya disepanjang jalan yg mereka lalui.

Sesampai didalam hutan yg sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tsb dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih krn ternyata dia tdk menyangka tega melakukan perbuatan ini terhdp Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata " Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dgn segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tdk berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sdh menandai sepanjang jalan yg kita lalui dgn ranting2 kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah. "

Setelah mendengar kata2 tsb, si anak menangis dgn sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya utk membawa si Ibu pulang kermh.

Pemuda tsb akhirnya merawat Ibu yg sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

NB : "Orang Tua" bukan barang rongsokan yg bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tdk berdaya.

Krn pd saat engkau sukses atau saat engkau dlm keadaan susah, hanya "Orang Tua" yg mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah.

"Orang Tua" kita tdk pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kpd orang tua.

Namun "Orang Tua" kita akan tetap mengasihi kita.

Mulai sekarang mari kita lebih mengasihi "Orang Tua" kita selagi mereka masih hidup.

Fishers of Men

Lukas 5:1-11 Penjala Ikan menjadi Penjala Manusia
1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat

Penginjilan yang Efektif

Injil berasal dari kata Yunani, εὐαγγέλιον, euangélion, yang artinya kabar baik. Jadi penginjilan adalah kegiatan memberitakan kabar baik. Sama seperti seorang hamba yang menyampaikan kabar baik tentang kemenangan di medan perang kepada seisi kota, demikian juga kabar baik tentang kemenangan Kristus menebus dosa-dosa kita harus diberitakan.
 
Dalam kekristenan, penginjilan bukanlah sebuah anjuran ataupun tawaran, yang bisa diterima ataupun ditolak. Namun, penginjilan adalah sebuah perintah. Setelah Yesus bangkit dari maut, Dia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sebagai penggenapan seluruh karyaNya di muka bumi ini, lahir, mati di kayu salib, dan bangkit mengalahkan maut. Dan sebelum Dia naik ke Surga, Tuhan Yesus menyampaikan sebuah perintah, yang kita kenal sebagai Amanat Agung;
 
18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

Amanat Agung ini sering dibicarakan di gereja, tetapi hanyalah sebatas dibicarakan. Panitia-panitia seminar mengeluarkan biaya mahal untuk menyelenggarakan seminar dan pelatihan penginjilan, namun hasilnya sangat minim, karena amanat ini hanya sebatas dibicarakan. Oleh karena itu, mari kita bukan hanya menjadi pendengar saja, namun kita mau menjadi pelaku Firman.

How Much I care

Mrk 2:1-12, Luk 5:17-26 Orang Lumpuh Disembuhkan

Org lumpuh menderita fisik dan mental. Mereka sulit melakukan pekerjaan karena keterbatasan fisik; produktifitas mereka tidak setinggi orang yang normal. Mari kita bayangkan kondisi ini yang terjadi 2000 tahun yang lalu, kalau zaman sekarang sih sudah banyak alat bantu dan terapi modern, mereka sangatlah menderita.

Belum lagi, tekanan mental yang mereka alami, karena stigma masyarakat yang berkata orang cacat adalah akibat dosa, baik dosa diri sendiri, maupun dosa orangtuanya. Mereka akan dikucilkan. Orang-orang akan menghindari mereka, takut "kecipratan" kutuk.

Tapi bersyukur dia masih punya 4 orang sahabat. Mereka mendengar tentang kedahsyatan Tuhan Yesus, dan mereka mendengar kalau Yesus ada di Kapernaum. Mereka TERINGAT kepada sahabat mereka yang lumpuh dan mengambil TINDAKAN; menggotong dia kepada Yesus.

Adakah kita yang sudah terlebih dahulu mengalami kuasa Kristus juga teringat pada teman kita yang "terkungkung dalam kutuk"?

Halangan
1. Menggotong dan berjalan jauh itu melelahkan.
2. Tidak ada untungnya buat mereka (yang menggotong); saudara juga bukan.
3. Banyak "penonton" yang menghalangi.

Solusi
Mereka berusaha keras memikirkan jalan keluar, dan akhirnya sampai menggotong orang lumpuh tersebut sampai ke atap, membongkar atap, dan menurunkan dia sampai di hadapan Yesus.

Results
1. Dosa orang lumpuh tersebut diampuni.
2. Kelumpuhannya disembuhkan.
3. Orang banyak yang hadir memuliakan Tuhan.

Ketika Kasih Harus Berkorban

 Bulan Februari dikenal banyak orang sebagai hari Valentine; hari dimana orang-orang tanpa batasan usia saling menunjukkan kasih sayang. Ada yang menunjukkannya dengan setangkai bunga mawar, ada yang menunjukkannya dengan sekotak coklat/permen, ada yang menunjukkannya dengan makan malam romantis, dsb. Peluang ini dimanfaatkan sedemikian rupa oleh dunia bisnis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, melalui penjualan kartu ucapan, bunga, kado, restoran, dll.

Namun ada sebagian orang merayakan hari Valentine dengan cara yang najis di hadapan Tuhan. Mereka bukan lagi menunjukkan kasih sayang, namun mereka mengumbar hawa nafsu. Mereka mengadakan pesta seks dengan bergonta-ganti pasangan. Dan jelas hal ini sudah sangat menyimpang dari makna hari Valentine itu sendiri.

Mari kita lihat apa latar belakang perayaan hari Valentine. Menurut legenda, hari Valentine diambil dari nama seorang rohaniawan Kristen yang bernama St. Valentine. Ia hidup pada sekitar abad ke 6 pada masa pemerintahan kaisar Romawi Claudius II. Kaisar Claudius II berpikir bahwa untuk mencetak prajurit yang tangguh, para pemuda sebaiknya dilarang untuk menikah agar dapat berfokus pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai prajurit. Oleh sebab itu, ia mengeluarkan peraturan yang melarang semua pemuda untuk menikah. Peraturan itu membuat banyak pemuda patah hati. Namun St. Valentine tidak menyetujui peraturan sang kaisar. Diam-diam, ia melangsungkan pernikahan pasangan muda-mudi yang saling jatuh cinta sampai pada suatu hari, perbuatan St. Valentine diketahui oleh Kaisar Claudius II. Ia sangat marah dan memerintahkan agar St. Valentine ditangkap dan dieksekusi. Di dalam penjara, St. Valentine jatuh cinta kepada putri dari kepala penjara. Pada tanggal 14 Februari, hari dimana St. Valentine akan dieksekusi hukum mati, ia menulis sepucuk surat cinta kepada gadis idamannya ini, dengan tanda tangan “From your Valentine” (Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Valentine’s_Day). Sejak itulah, kisah cinta dan upaya St. Valentine menyelamatkan cinta para pasangan muda dirayakan setiap tanggal 14 Februari.

Bagaimana dengan orang Kristen? Apakah kita juga boleh merayakan hari Valentine? Jika hari Valentine kita pandang sebagai hari kasih sayang, tanpa mendewakan manusia tertentu. Maka sebaiknya setiap hari orang Kristen adalah hari Valentine; hari dimana kita mempraktekkan kasih Allah dan menunjukkan kasih  kepada sesama kita. Biar orang dunia bisa melihat Bapa di Surga yang adalah kasih di dalam hidup kita sehari-hari (1 Yoh 4:7-21 Allah adalah kasih).

Di dalam kehidupan kita ada 3 tingkatan praktek kasih:

#1 Kasih Bersyarat
Kasih jenis ini adalah kasih tingkat pertama, dimana seseorang hanya mau mengasihi orang lain jika ia mendapat kasih dari orang tersebut terlebih dahulu. Jika tidak, maka ia akan duduk diam, pasif, tidak menunjukkan kasih apa pun. Orang yang memiliki kasih bersyarat sering berkata, “kalau dia baik sama saya, saya juga akan baik sama dia, tapi kalau dia jahat sama saya, saya akan lebih jahat sama dia.” Sekilas ia kelihatan cukup fair, namun orang seperti ini adalah orang yang masih hidup terkungkung di zaman Perjanjian Lama, mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang seperti ini biasanya suka hitung-hitungan, apa untungnya buat saya?

#2 Kasih Motivasi
Kasih jenis ini adalah kasih tingkat kedua, dimana seseorang mengasihi orang lain karena ada motivasi tertentu, ada maunya. Ini sangatlah alamiah, dan jangan pandang ini sebagai kasih yang buruk. Lebih baik kita mengejar sesuatu yang kita kehendaki dengan cara menunjukkan kasih atau sikap baik daripada dengan cara yang tidak menyenangkan.

Tetapi jika kasih kita tidak kian bertumbuh dewasa, maka kita akan di-cap orang dengan label yang tidak baik, kalo ada maunya baru baik, kalo tidak, huh..., habis manis sepah dibuang. Pada saat itu, kita bukan hanya mencoreng reputasi kita sendiri, namun kita menjadi batu sandungan buat orang lain.

#3 Kasih Meskipun
Kasih jenis ini adalah kasih yang tertinggi. Orang yang memiliki kasih ini tetap menunjukkan kasihnya meskipun orang yang ia kasihi itu tidak pantas untuk menerima kasih darinya, meskipun orang yang ia kasih itu telah menyakiti hatinya, meskipun orang yang ia kasihi itu tidak membalas kasihnya, air susu dibalas air tuba.

Kristus mengasihi kita dengan kasih “meskipun”. Dia tetap mengasihi kita meskipun kita masih berdosa (Roma 5:8). Dia tetap mengasihi kita meskipun kita masih bermusuhan dengan Allah (Roma 5:10). Kasih-Nya dinyatakan bukan hanya dengan kata-kata saja, melainkan dengan tindakan nyata, mati di atas kayu salib untuk menebus dosa saudara dan saya.

Roma 5:8
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Roma 5:10
Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!

Penebusan dosa yang Kristus lakukan di atas kayu salib membuktikan betapa Dia mengasihi saudara dan saya. Kita ditebus bukan karena kesalehan kita, bukan juga karena kekayaan dan kecakapan kita, namun karena Dia tahu, kita tidak bakalan sanggup menanggung upah dosa yang kita pikul. Dia tidak mau melihat kita binasa dalam penghukuman dosa. Itulah sebabnya, Dia dalam segala kemuliaanNya rela datang ke dunia, mengosongkan diriNya mengambil rupa sebagai manusia berdosa, supaya kita bisa diselamatkan. Itulah kasih agape; kasih meskipun.

Sekarang, kasih seperti apa yang mau kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari? Jika kita memang lahir dari Allah dan mengenal Allah, maka kita akan mempraktekkan kasih karena Allah yang kita sembah adalah kasih (1 Yoh 4:7-8). Ketika Tuhan Yesus ditanya tentang keutamaan dalam hukum Taurat, maka ia menekankan tentang totalitas kasih kepada Allah dan sesama manusia (Matius 22:34-40).

Matius 22 : 34 - 40 Hukum yang terutama
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Bahkan ciri kasih adalah tanda lahir baru setiap orang percaya, yang menandakan bahwa ia adalah anak-anak Allah (Mat 5:45). Kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita dengan standar kasih dari Bapa di Surga (Mat 5:46-48). Jika kita mau mewarnai dunia ini, marilah kita warnai dengan kasih Allah mulai dari sekarang.